Tuesday, December 20, 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1 Aktivitas Guru Penggerak

Koneksi Antar Materi Modul 1 Aktivitas Guru Penggerak

Dalam membuat koneksi antar materi modul 1 ini akan saya sampaikan dengan menggunakan rubrik yang meliputi 3 (tiga) aspek terdiri dari : 1) pemikiran refleksi terkait pengalaman belajar; 2) analisis untuk implementasi dalam konteks CGP; 3) membuat keterhubungan.

Koneksi materi yang diharapkan adalah berupa kesimpulan mengenai peran seorang guru penggerak dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukum dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/ kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, serta visi guru penggerak.



A. Pemikiran Refleksi Terkait Pengalaman Belajar

Indikator :

1. Pemahaman/ materi pembelajaran yang baru saja diperoleh

Pada bagian pertama berkaitan dengan disiplin budaya positif mempelajari tentang teori kontrol dari William Glasser. Ada 4 hal yang dibahas diantaranya : 1) kita tidak bisa mengontrol orang lain, kita hanya dapat mengontrol diri sendiri; 2) semua perilaku memiliki tujuan; 3) model berpikir menang-menang, kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru; 4) realitas (kebutuhan) kita berbeda, kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia, setiap orang memiliki gambaran berbeda. Pada tahapan pertama bahwa yang bisa mengontrol orang lain adalah dirinya sendiri dapat dilakukan dengan upaya kontrol diri, menggali potensi agar tercapai tujuan mulia, yaitu sesuatu menjadi seseorang yang kita inginkan berdasarkan nilai-nilai yang kita hargai. Pada tahapan kedua berkaitan dengan semua perilaku memiliki tujuan ada 2 hal yang diharapkan yaitu teori motivasi dan nilai-nilai kebajikan universal. Pada teori motivasi ada 3 motivasi ekstrinsik yaitu 1. untuk menghindari hukuman, 2. untuk mendapatkan imbalan, 3. untuk menghargai diri sendiri. Sedangkan untuk motivasi internal nilai-nilai kebajikan universal yaitu keyakinan kelas. Pada tahap ketiga berkaitan dengan model berpikir menang-menang, kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru, terdapat 5 posisi kontrol dan segitiga restitusi. Pada penentuan 5 posisi kontrol meliputi : 1. penghukum, 2. pembuat rasa bersalah, 3. teman, 4 pemantau dan 5. manajer; sedangkan pada segitiga restitusi meliputi : 1. menstabilkan identitas; 2. validasi kebutuhan dan 3. menanyakan keyakinan. Pada tahap terakhir berkaitan dengan realitas (kebutuhan) jika berbeda, kita berusaha memahami tentang pandangan orang lain tentang dunia. Dari tahap kelima ada 5 kebutuhan dasar manusia yaitu : 1. penguasaan; 2. kasih sayang dan rasa diterima, 3. kesenangan dan 4. kebebasan. Bila kita kaitkan dengan materi pada modul 1 kita melihat ada pandangan dari Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat  alam dan kodrat zaman atau masyarakat. Pendidikan adalah tuntunan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Ibarat bibit dan buah. Tuntunan itu tidak bersifat mengikat akan tetapi memberikan kebebasan dan kemerdekaan anak untuk berkembang serta tumbuh sesuai kodrat zaman dan kodrat alat mereka. Kita hanya pamong yang mengarahkan mereka supaya tidak tergelincir melakukan kesalahan yang menghilangkan kebahagiaan mereka. Tuntunan-tuntunan yang mengarahkan mereka untuk hidup sesuai dengan keselarasan alam dan lingkungan dimana mereka tumbuh. Menuntun mereka untuk untuk menjadi agen perubahan atau subjek dalam pendidikan untuk menciptakan keterbiasaan dalam berbudaya positif.

Budaya positif penting dikembangkan di sekolah. Mutu sekolah dapat dilihat dari budaya positif yang hidup dan dikembangkan warga sekola. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah. Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Membangun budaya positif di sekolah secara bersama-sama dengan warga sekolah dapat dimulai dari diri sendiri, selanjutnya dapat ditularkan pada murid sebagai subjek pendidikan dalam rangka mewujudkan profil pelajar Pancasila. Terbentuknya budaya positif ini perlu adanya kolaborasi antara warga sekolah, orang tua dan lingkungan masyarakat.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat menggerakkan komunitas praktisi, menjadi couch bagi rekan sejawat dan mendorong kolaborasi antar guru untuk bersama-sama mewujudkan budaya positif. Budaya positif yang berpihak pada murid adalah dengan mengembangkan visi bersama tentang apa yang ingin dicapai sekolah. Dengan melihat kekuatan positif yang telah dicapai sekolah. Ini dapat terwujud apabila guru dapat mengaplikasikan nilai-nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid.

Keberpihakan pada murid dapat diawali dengan membuat kesepakatan kelas / sekolah sebagai fondasi arah tujuan sebuah sekolah/ kelas yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sekolah/ kelas. Dengan keyakinan sekolah/ kelas murid akan tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinan, dari pada hanya menjalankan peraturan tertulis tanpa makna.

Restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. Tujuan disiplin positif adalah menanamkan motivasi untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percayai. Disiplin restitusi di posisi manajer atau minimal pemantau diharapkan dapat menghasilkan murid yang mandiri, bertanggung jawab dan merdeka

Penerapan segitiga restitusi dalam menanamkan disiplin positif adalah hal yang menarik bagi penulis. Ini menjadi hal yang baru buat penulis sebagai calon guru penggerak (CGP) karena sebelumnya belum pernah saya alami dalam membimbing murid berdisiplin positif.

Dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun di sekolah cara pikir penulis sudah mulai berubah. Perubahan itu terjadi karena refleksi atau praktik disiplin yang penulis alami serta dampaknya  pada murid-murid penulis sebagai guru. Sebelumnya penulis sebagai guru dalam posisi kontrol penghukum dan pembuat rasa bersalah. Setelah mengetahui restitusi penulis berusaha pada posisi manajer atau minimal pemantau.

Penerapan konsep-konsep inti modul budaya positif yang pernah saya alami adalah lima posisi kontrol. Dari ke lima posisi kontrol yang diterapkan sebagai guru hanya pada posisi penghukum dan membuat rasa bersalah. Namun secara tidak disadari saya juga pernah menerapkan posisi pemantau maupun restitusi untuk menanamkan disiplin positif di kelas dan di sekolah. Selanjutnya saya akan berusaha berada pada posisi kontrol manajer dalam penerapan disiplin positif sehingga tercipta budaya positif.

2. Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar

Emosi yang saya rasakan ketika melaksanakan penerapan teori disiplin positif ini dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, saya menjadi merasa lebih sabar dalam menghadapi anak-anak, adanya pengaturan emosi yang sangat terkontrol, tidak melihat suatu kesalahan anak dari satu sudut pandang, akan tetapi lebih memandang dari banyak hal sehingga saya merasa adanya keterjalinan hubungan emosi yang lebih baik antara anak dengan pengajarnya/ gurunya.

3. Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar

Hal baik yang telah saya miliki dan juga anak-anak karena kami memiliki lingkungan belajar yang kondusif dan dapat membuat suatu komunikasi yang positif tanpa adanya tekanan dan ketidak berdayaan. Selain itu anak-anak walaupun berasal dari kondisi latar belakang yang berbeda akan tetapi dapat melaksanakan komunikasi dan kolaborasi dengan baik.  

4. Apa yang perlu diperbaiki dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar

Dalam proses pembelajaran pada awalnya posisi kontrol yang sering digunakan adalah penghukum, guru memandang semua permasalahan yang muncul dari anak-anak dari satu sudut pandang, sehingga kurang memperhatikan apa sesungguhnya yang ada dalam pikiran mereka, mengapa mereka melakukan itu, apa yang diinginkan dan apa dampaknya belum menjadi fokus utama, sehingga dari proses belajar yang saya dapatkan saya menjadi lebih mengontrol diri, untuk dapat lebih memahami anak-anak, bersama dengan mereka membuat suatu keyakinan kelas yang dapat diterapkan secara konsisten dan bersama-sama.

5. Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi

Dari proses yang dilakukan keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi saya sangat terasa ada suatu perbedaan. Dimana pada awalnya guru memiliki emosi yang kurang terkontrol ketika anak-anak dilihat melanggar tata tertib sekolah. Padahal anak-anak mungkin saja tidak tau tata tertib tersebut karena tidak adanya pembahasan yang lebih mendalam akan apa konsekuensi dan akibat jika tata tertib tersebut dilanggar.

B. Analisis Untuk Implementasi Dalam Konteks CGP

Indikator :

1. Memunculkan pertanyaan kritis yang berhubungan dengan konsep materi dan menggalinya lebih jauh

Setelah saya mempelajari pemahaman materi pada modul 1 ini  banyak hal yang saya dapatkan berkaitan dengan nilai-nilai apa yang harus dimiliki oleh seorang pendidik dan apa peranan saya sebagai seorang pendidik. Ternyata guru tidak saja hanya memiliki tugas mengajar lalu usai melaksanakan tugas langsung pulang dan menerima gaji setiap bulannya. Ternyata guru memiliki suatu tugas yang lebih dari sekedar itu. Ada banyak hal positif yang saya dapatkan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas karena anak-anak yang saya hadapi memiliki beranekaragam latar belakang, sehingga perlu adanya penanganan yang khusus terhadap kasus-kasus yang anak-anak hadapi, hal ini saya dapatkan dari teori kontrol

2. Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru

Dalam mengimplementasikan nilai-nilai positif yang terdapat dalam modul 1 saya dapat hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan dalam pendidikan saya sebelumnya, Sebagai seorang guru memiliki suatu tujuan yaitu untuk menuntun anak-anak sesuai dengan kodrat alam dan zamanya, bukan mengajar anak-anak lalu mengevaluasi mereka hanya sekedar untuk mendapatkan nilai yang bagus. Lantas apakah itu menjamin anak-anak akan selamat dan bahagia, belum tentu. dari sini saya dapat memulai dari diri sendiri dengan bertanya pada diri ingin menjadi guru seperti apa saya, apakah saya akan menjadi guru yang dapat menuntun kodrat anak-anak atau hanya sekedar berada di zona nyaman tanpa melakukan tindakan lebih yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar yaitu anak-anak.

3. Menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah)

Dalam menerapkan apa yang kita yakini tentu banyak hal yang menjadi perhatian, seperti tantangan dan hambatan. Sebab yang dihadapi bukan satu atau beberapa orang saja akan tetapi banyak orang yang mungkin visinya tidak sejalan dengan pemikiran kita. Adapun tantangan yang saya hadapi diantaranya ketidak samaan persepsi dengan para senior yang telah lama memiliki pemikiran yang sudah mereka anggap benar sejak lama, dukungan dari kepala sekolah yang masih memandang perubahan zaman sebagai sesuatu yang sudah biasa terjadi dan kita hanya ikut alur mengikutinya dengan meyakinan hal-hal yang sebelumnya telah diturunkan secara turun temurun.

4. Memunculkan alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi

Beberapa alternatif solusi terhadap tantangan yang saya hadapi diantaranya dengan melakukan praktik-praktik baik yang saya yakini akan memberikan dampak baik untuk anak-anak, karena saya menyadari sebagai guru yang masih muda, walau memiliki kemampuan anak-anak generasi Z akan tetapi saya sadar akan dapat memberikan dampak positif jika mampu memberikan bukti-bukti bukan dengan sekedar kata-kata dan mengiming-iming dengan impian yang muluk-muluk atau bahkan beradu argumen tanpa menghasilkan apa-apa.

C. Membuat Keterhubungan

Indikator :

1. Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu yang dapat saya jadikan pembelajaran adalah, pengalaman yang pernah saya lakukan kepada anak-anak ketika mereka menghadapi masalah atau melakukan pelanggaran saya mungkin termasuk guru yang tergolong penghukum, karena ketika melihat perbuatan yang salah / pelanggaran langsung memarahi anak-anak, tanpa memberikan pilihan yang lebih bijak dengan menggunakan posisi-posisi kontrol yang lain. Bagi saya waktu itu hal yang salah pantas untuk diberikan hukuman atau reward sehingga dapat memberikan efek yang lebih mendisiplinkan anak-anak. Ternyata hal tersebut tidak selamanya berdampak bagus karena anak-anak ada yang memiliki sifat yang cenderung dendam dan tidak menerima apa yang telah dia dapatkan walaupun hukuman sekalipun. Inilah yang membuat saya merefleksi dan terus belajar hingga mendapatkan pembelajaran tentang teori kontrol dari guru penggerak ini.

2. Penerapan di masa mendatang

Penerapan di masa mendatang setelah saya mempelajari materi pada modul 1 ini, saya menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih dapat mengontrol diri untuk dapat mengelola emosi sehingga tidak langsung memberikan efek negatif kepada anak-anak, akan tetapi lebih dengan cara-cara yang positif dalam menerapkan disiplin positif. Sehingga harapannya dapat memberikan pelayanan kepada anak-anak dalam proses menuntun untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan mereka.

3. Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari

Praktik baik yang telah saya lakukan dalam kaitan saya menerapkan modul 1 ini diantaranya berupa melakukan kolaborasi dalam kelompok MGMP Matematika (komunitas praktisi) dalam membuat acara seri berbagi, aktif dalam melaksanakan pengembangan kewirausahaan di sekolah dalam bentuk kegiatan berkebun, berjualan untuk anak-anak sebagai pengganti uang kas mereka, hingga mengembangan diri dalam membuat media komunikasi digital bagi seluruh warga sekolah berkaitan dengan transparansi, dan program-program strategis sekolah.

4. Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP

Informasi yang didapat berkaitan dengan pengembangan diri seperti halnya program guru penggerak ini kedepan akan saya gunakan untuk menjadi pemimpin pembelajar di kelas/ sekolah agar dapat menuju arah perubahan yang lebih baik dan menjadi sarana bagi anak-anak untuk dapat belajar lebih baik sesuai dengan perkembangan kodrat zaman dan kodrat alam mereka untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan mereka dalam kehidupan mereka kelak.

Link Aksi nyata 


Wednesday, August 31, 2022

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran-Pemikiran Ki Hajar Dewantara

 

Pendidikan dan pengajaran tidak dapat dipisahkan. Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau faedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pancasila (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.

Ki Hajar Dewantara memberikan pemikiranya tentang dasar-dasar pendidikan. Menurut KHD, pendidikan bertujuan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak.


Klik Shopee.Co.Id

Peran pendidik diibaratkan seorang petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamanya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuannya. Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berpikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.


Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang ada namun tidak semua yang baru itu baik, jadi perlu diselaraskan dulu. Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sumber belajar. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukkan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.

Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamanya agar mereka bisa hidup berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan kecakapan abad 21.  Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.

Dalam pembelajaran di kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka bermain. Lihatlah ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka rasakan adalah kegembiraan dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati dan pikirannya. Hendaknya guru juga memasukkan unsur-unsur permainan dalam pembelajaran agar anak-anak senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran melalui permainan, kita juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan kebudayaan.

Hal terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), menuntun proses belajarnya (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani) bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan.

Sumber : https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/kesimpulan-dan-refleksi-pemikiran-pemikiran-ki-hajar-dewantara/ 

Sunday, June 5, 2022

Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM)

 


Guna mendukung Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), Kemendikbudristek memberikan dukungan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri dan dukungan pendataan Implementasi Kurikulum Merdeka jalur mandiri. Dari pendataan tersebut akan didapatkan calon satuan Pendidikan yang berminat dan mereka akan memperoleh pendampingan pembelajaran untuk Implementasi Kurikulum Jalur Mandiri.

Setelah pendataan, Kemendikbudristek akan memberikan angket kesiapan implementasi Kurikulum Merdeka kepada satuan pendidikan yang berminat. Isi dari angket tersebut tidak ada salah atau benar. Angket kesiapan ini guna mengetahui pilihan implementasi mana yang cocok dengan kesiapan dan keadaan satuan pendidikan.

Ada tiga pilihan Implementasi Kurikulum Merdeka jalur mandiri yang bisa diaplikasikan, yaitu Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi. Berikut penjelasan dari masing-masing pilihan :

1. Mandiri Belajar

Pilihan mandiri belajar memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan saat menerapkan kurikulum merdeka beberapa bagian dan prinsip kurikulum merdeka, tanta mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

2. Mandiri Berubah

Mandiri berubah memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan saat menerapkan kurikulum merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

3. Mandiri Berbagi

Pilihan mandiri berbagi akan memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan dalam menerapkan kurikulum merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Demikian informasi berkaitan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terima Kasih.

Link Penting :

https://linktr.ee/pmerdekamengajar

https://s.id/kurikulum-merdeka

https://guru.kemdikbud.go.id/   (platform merdeka mengajar versi web)

https://kurikulum.kemdikbud.go.id/kurikulum-2013/

https://buku.kemdikbud.go.id/ (buku)

Sumber : https://ditsmp.kemdikbud.go.id/kenali-3-opsi-ini-sebelum-mendaftar-implementasi-kurikulum-merdeka-jalur-mandiri/

Friday, February 11, 2022

Kerangka dan Struktur Kurikulum Prototipe 2022

Kerangka dan Struktur Kurikulum

Kita perlu melihat alur kerangka penyusunan kurikulum yaitu : (1) Tujuan Pendidikan Nasional (Profil Pelajar Pancasila); (2) Standar Kompetensi Lulusan; yang dijabarkan menjadi (2a) Standar Isi, (2b) Standar Proses, (2c) Standar Penilaian Pendidikan; Selanjutnya diturunkan menjadi (3) yaitu (3a) Struktur Kurikulum, (3b) Capaian Pembelajaran, (3c) Prinsip Pembelajaran dan Asesmen yang ketiganya ini ditetapkan oleh pemerintah. Berupa Perangkat ajar : Buku Teks Pelajaran, Contoh Modul ajar Mata Pelajaran, Contoh Panduan Projek Profil Pelajar Pancasila, Contoh Kurikulum Satuan Pendidikan. Terakhir diturunkan menjadi Kurikulum Operasional dikembangkan di satuan pendidikan (merdeka dikembangkan di sekolah).


Gambar 1. Kerangka Dasar Kurikulum Prototipe

Prinsip Perancangan Kurikulum

Kurikulum yang disederhanakan dan lebih fleksibel sehingga selaras dengan semangat merdeka belajar.


Otonomi Sekolah dan Guru Mudah Diterapkan Gotong-Royong
Pemerintah menetapkan struktur kurikulum minimum dan prinsip pembelajaran dan asesmen. Satuan pendidikan dapat mengembangkan program dan kegiatan tambahan sesuai dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia Tujuan, arah perubahan, dan rancangannya jelas sehingga mudah dipahami oleh sekolah serta pemangku kepentingan Pengembangan kurikulum dan perangkat ajarnya dilakukan dengan melibatkan puluhan institusi termasuk Kemenag, Universitas, Sekolah dan Lembaga Pendidikan Lainnya
Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk mengorganisasikan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa dan konteks lokal Pemerintah menyediakan perangkat ajar untuk membantu satuan pendidikan dan guru yang membutuhkan panduan dalam merancang kurikulum dan pembelajaran Sekolah dianjurkan melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan kurikulum operasionalnya masing-masing berdasarkan kerangka kurikulum

Kurikulum Ini Meneruskan Proses Peningkatan Kualitas Pembelajaran Yang Telah Diinisiasi Kurikulum-Kurikulum Sebelumnya


Berbasis Kompetensi Karakter Pancasila
Pengetahuan, keterampilan, dan sikap dirangkaikan sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh, dinyatakan sebagai Capaian Pembelajaran (CP) Sinergi antara kegiatan pembelajaran rutin sehari-hari di kelas dengan kegiatan non rutin interdisipliner (projek) yang berorientasi pada pembentukan dan penguatan karakter berdasarkan kerangka Profil Pelajar Pancasila
Penguatan fondasi literasi di PAUD dan SD Menguatkan penerapan teori pembelajaran karakter, yaitu melalui kegiatan projek yang kontekstual dan berpusat pada siswa
Fleksibelitas dalam pengorganisasian pembelajaran agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kecepatan belajar siswa



Penentuan Pendekatan Untuk Pengorganisasian Pembelajaran Merupakan Wewenang Satuan Pendidikan

Seluruh jenjang satuan pendidikan dapat menggunakan pendekatan berbasis mata pelajaran, tematik, unit inkuiri, kolaborasi lintas mata pelajaran, ataupun paduannya sesuai dengan peraturan menteri

  • Pendekatan tematik terbatas pada SD
  • SD tidak harus menggunakan tematik. Namun tidak ada larangan untuk satuan pendidikan yang mau tetap menggunakan pendekatan ini.
  • Tidak harus satu pendekatan untuk seluruh mata pelajaran, dapat dikombinasikan
  • Keleluasaan kolaborasi antar mata pelajaran untuk melakukan asesmen lintas mata pelajaran
Mengintegrasikan Pembelajaran dan/atau asesmen dapat :
  • Mengurangi beban belajar siswa, karena asesmen yang berorientasi pada kompetensi biasanya membutuhkan lebih banyak usaha siswa (dan guru yang menilainya)
  • Pembelajaran dan asesmen yang lebih bermakna

Jam Pembelajaran (JP) diatur oleh Pusat Per Tahun bukan Per Minggu

Siswa tidak harus mempelajari yang sama setiap minggu sepanjang tahun.

Target JP untuk satu tahun bisa dicapai kurang dari satu tahun. Contohnya skenario di SD :

  • Mapel seni rupa dipelajari secara intensif dalam semester ganjil dan asesmen sumatifnya berupa pameran karya.
  • Di semester ganjil tersebut ada mata pelajaran lain yang dikurangi JP-nya, yaitu mapel IPA.
  • Di semester genap mapel seni rupa tersebut tidak diajarkan, dan mapel IPA akan dipelajari siswa secara intensif seperti halnya seni di semester ganjil, dengan asesmen sumatif pameran hasil penelitian siswa.

Struktur Kurikulum Terbagi Menjadi Dua Kegiatan Utama, Yaitu Kegiatan Rutin di Kelas (Intrakurikuler) dan Kegiatan Projek

Jumlah JP tidak berubah dari kurikulum 2013, namun sekitar 20-30% dari JP/tahun dialokasikan untuk pembelajaran melalui proyek yang ditujukan untuk mencapai profil pelajar pancasila.

Kegiatan projek penguatan profil pelajar pancasila tersebut tidak berbasis mata pelajaran. Jam pelajaran untuk setiap mapel dialihkan karena :

  1. Tidak ada penambahan JP untuk siswa (JP) yang ada saat ini sudah cukup panjang), dan
  2. Diasumsikan bahwa kompetensi esensial * dari seluruh mata pelajaran akan dipelajari juga melalui projek.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Adalah Kegiatan Yang Fleksibel, Tidak Rutin/ Terstruktur, dan Lebih Berpusat Pada Siswa

Fleksibelitas dan Berpusat Pada Siswa

  • Projek dilakukan 2-3 kali dalam satu tahun sesuai jenjang, jangka waktu masing-masing projek tidak harus sama
  • Tidak perlu ada kegiatan belajar, karena siswa dapat melakukan penelitian, pengerjaan karya, dsb, sesuai kebutuhan mereka. Hal ini mendorong self-regulated learning.
Kontekstual
  • Pemerintah pusat hanya menentukan tema yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan
  • Satuan pendidikan mengembangkan topik yang lebih spesifik dari tema tersebut, sesuai dengan tahap capaian pembelajaran siswa.

Struktur Kurikulum SMP

Penguatan wawasan literasi di SMP

Kurikulum 2013

Informatika sebagai pelajaran pilihan (pertimbangan ketersediaan guru)

Arah perubahan kurikulum

Informatika sebagai mata pelajaran wajib (Guru yang mengajar tidak harus memiliki latar belakang pendidikan informatika. Buku guru disiapkan untuk membantu guru-guru "pemula" dalam mata pelajaran ini.

Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan

Apa Kurikulum Operasional Itu ?



Wednesday, January 5, 2022

KARTU INDONESIA PINTAR (KIP)

Kartu Indonesia Pintar : Apa itu, Manfaat dan Siapa Berhak Menerima 

Indonesia terus berbenah setelah resmi memiliki pemimpin atau presiden yaitu Joko Widodo dan Wakil Jusuf Kalla kala itu, beberapa program pun meluncur. Tepat pada tanggal 3 November 2014 tahun lalu Presiden Jokowi meluncurkan program perdananya, yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di lima kantor pos di Jakarta, yaitu Kantor Pos Pasar Baru, Kantor Pos Kebon Bawang, Kantor Pos Jalan Pemuda, Kantor Pos Mampang dan Kantor Pos Fatmawati. Untuk KIP sendiri sebanyak 230 anak usia sekolah di DKI Jakarta menerima program ini pada peluncuran tahap awal ini. Lalu apa program KIP itu sendiri ? Apa manfaat dan bagaimana mekanisme pembagian kartu yang dianggap sakti ini ? Berikut ulasannya.

Apa itu KIP ?

KIP sendiri merupakan kartu yang ditujukan bagi keluarga miskin dan rentan miskin yang ingin menyekolahkan anaknya yang berusia 7-18 tahun secara gratis. Mereka yang mendapat KIP ini akan diberikan dana tunai dari pemerintah secara reguler yang tersimpan dalam fungsi kartu KIP untuk bersekolah secara gratis tanpa biaya. Program KIP sendiri akan ditujukan pada 15,5 juta keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia yang memiliki anak usia sekolah 7 hingga 18 tahun baik yang telah terdaftar maupun yang belum terdaftar di sekolah maupun madrasah. Dengan program KIP ini diharapkan angka putus sekolah bisa turun dengan drastis.

Penyebaran dan Pembagian KIP

Pada tahap awal yaitu bulan November hingga Desember 2014, pemerintah telah menyebarkan Kartu Indonesia Pintar ini pada 157.943 anak usia sekolah dan keluarga kurang mampu. Selanjutnya, secara bertahap KIP juga sudah dibagikan kepada 24 juta anak usia sekolah, termasuk anak usia sekolah penyandang masalah kesejahteraan sosial dan anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu yang selama ini tidak dijamin.

Segera setelah diluncurkan awal diselenggarakan di Jakarta, maka penyebaran berikut-berikutnya kala itu telah dilakukan di 19 Kabupaten/Kota, yaitu Jembrana, Pandeglang, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Cirebon, Kota Bekasi, Kuningan, Kota Semarang, Tegal Banyuwangi, Kota Surabaya, Kota Balikpapan, Kota Kupang, Mamuju Utara, Kota Pematang Siantar dan Karo. Peluncuran tersebut telah selesai pada pertengahan bulan Desember 2014.

Tujuan Program KIP


Program ini sendiri ditujukan untuk menghilangkan hambatan ekonomi siswa untuk bersekolah, sehingga nantinya membuat anak-anak tidak lagi terpikir untuk berhenti sekolah. Selain menghindari anak putus sekolah, program KIP ini juga dibuat untuk bisa menarik kembali siswa yang telah putus sekolah agar kembali bersekolah. Bukan hanya tentang biaya administrasi sekolah, program ini juga bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran. Lebih luas lagi, program dalam KIP ini juga sangat mendukung untuk mewujudkan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan pendidikan menengah universal/ wajib belajar 12 tahun.

Manfaat Kartu Indonesia Pintar (KIP)

Kartu Indonesia Pintar (KIP) sendiri memiliki beberapa manfaat yaitu :

  • Kartu Indonesia Pintar (KIP) diberikan sebagai penanda dan digunakan untuk menjamin serta memastikan seluruh anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang KKS untuk mendapatkan manfaat Program Indonesia Pintar bila terdaftar di Sekolah, Madrasah, Pondok Pesantren, Kelompok Belajar atau Lembaga Pelatihan maupun Kursus.
  • Untuk tahap wala di 2014 lalu, KIP telah dicetak untuk sekitar 160 ribu siswa di sekolah umum dan juga madrasah di 19 Kabupaten/Kota. Untuk 2015, juga telah diberikan kepada 20.3 Juta anak usia sekolah baik dari keluarga penerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) atau memenuhi kriteria yang ditetapkan (seperti anak dari keluarga peserta PKH).
  • KIP juga mencakup anak usia sekolah yang tidak berada di sekolah seperti Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti anak-anak di panti asuhan/ sosial, anak jalanan dan pekerja anak dan difabel. KIP juga berlaku di pondok pesantren, pusat kegiatan belajar masyarakat dan lembaga kursus dan pelatihan yang ditentukan oleh pemerintah.
  • KIP mendorong pengikut sertaan anak usia sekolah yang tidak lagi terdaftar di satuan pendidikan untuk kembali bersekolah.
  • KIP menjamin keberlanjutan bantuan antar jenjang pendidikan sampai tingkat SMA/K/MA

Prioritas Penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP)


Penerima program KIP ini sendiri diprioritaskan pada :

  • Penerima BSM dari Pemegang KPS yang telah ditetapkan dalam SP2D 2014.
  • Anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang KPS/KKS yang belum ditetapkan sebagai penerima manfaat BSM.
  • Anak usia sekolah (6- 21 tahun) dari keluarga peserta PKH
  • Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang tinggal di panti asuhan/sosial.
  • Anak usia (6-21 tahun) berupa santri dari podok pesantren yang memiliki KPS/KKS.
  • Anak usia (6-21 tahun) yang terancam putus sekolah karena kesulitan ekonomi.
  • Anak usia sekolah yang belum atau tidak lagi bersekolah yang datanya telah dapat direkapitulasi pada semester 2 TA 2014/2015.

Kartu Indonesia Pintar Menggunakan Data Siswa Berbasis Keluarga

Meski telah mengantongi data penerima KIP, pemerintah tetap saja mendapat sejumlah kritikan karena data yang digunakan dinilai sudah tidak sesuai sebab merupakan data lama. Menanggapi hal tersebut Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah kala itu yang masih dijabat oleh Anies Baswedan mengakui data yang digunakan saat ini masih menggunakan data lama yang berbasis sekolah. Setelah itu diubah dan diberlakukanlah data berbasis keluarga. Harapan dengan menyasar dengan data berbasis keluarga akan menyasar lebih banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Semoga artikel ini bermanfaat ya.

Sumber : 

Tuesday, January 4, 2022

Archimedes : Ahli Matematika dan Penemu Ulung dari Syracuse

Foto : Archimedes

Bagi pelajar sekolah menengah, nama Archimede pastinya sudah tidak asing lagi. Pasalnya di lembaran buku teks pelajaran fisika selalu namanya tercantum. Hukum-hukum yang beliau cetuskanpun menjadi bagian dari kurikulum yang wajib dipelajari sepanjang masa.

Archimedes lahir pada 287 Sebelum Masehi (SM) di Syracuse. Ia adalah seorang ahli matematika dan fisika pada zaman Yunani. Dia menulis karya-karya tentang ilmu ukur bidang ilmu ukur ruang, aritmatika dan mekanika.

Ia adalah salah satu ilmuwan dan penemu yang sangat berpengaruh hingga hari ini. Karyanya dipelajari dan sangat dihormati oleh ilmuwan generasi sesudahnya seperti Kepler, Newton dan Galilei. Bahkan, penemuan-penemuannya yang sudah berjarak 24 Abad itu masih digunakan untuk keperluan sehari-hari hingga kini, Keren, kan !

1. Insiden Penemuan Hukum Archimedes Saat Ia Hendak Masuk ke Bak Mandi, Meloncat Berlari Ke Luar Rumah Tanpa Baju Sambil Teriak "Eureka! Eureka!"

Kisah ini berawal dari sikap seorang tukang emas yang tidak jujur dalam mengerjakan mahkota emas pesanan Raja Heiron. Raja yang curiga, meminta Archimedes untuk menyelidiki dan mencari bukti apakah mahkota emasnya itu 100% emas murni atau dicampur perak tanpa harus merusak mahkota yang telah jadi.

Rupanya Archimedes bersungguh-sungguh dan berpikir keras untuk memecahkan masalah tersebut. Saat berendam di dalam bak mandi pun ia masih memikirkannya. Di situ ia melihat bahwa air dalam bak mandinya yang tumpah keluar sebanding dengan berat tubuhnya. Archimedespun seketika menyadari, bahwa efek tersebut dapat digunakan untuk menghitung volume dan masa dari mahkota sang raja.

Tanpa sadar lagi, ia pun langsung meloncat dari bak mandi, berlari di jalan dalam keadaan telanjang bulat sambil berteriak "Eureka Eureka" (Sudah kutemukan! Sudah kutemukan!). Orang-orang pun menyangka Archimedes telah gila.

2. Lahir dari Kalangan Aristokrat, Menjadi Matematikawan Andalan Raja


Saat itu Syracuse menjadi bagian dari Yunani. Kini Syracuse lebih dikenal dengan nama Sisilia. Keluarganya berasal dari kalangan aristokrat. Ayahnya, seorang astronom yang memiliki hubungan keluarga dengan Raja Hieron II yang memimpin Syracuse pada masa tersebut.

Sejak kecil Archimedes telah menunjukkan bakat intelegensia yang tinggi. Ditambah tubuh besar dalam suasana pembelajaran yang baik. Ia pun tumbuh menjadi sosok yang sangat menyukai ilmu pengetahuan dan mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Mengetahui keistimewaan Archimedes, raja seringkali memintanya untuk menyelesaikan masalah, seperti kasus mahkota emas dan membuat mesin perang untuk menghalau serangan terhadap Syracuse.

3. Disebut Sebagai Matematikawan Sekaligus Fisikawan Pertama Yang Menemukan "Mesin Perang", diaplikasikan untuk menghalau pasukan Romawi Yang Menyerang Tanah Kelahirannya


Pada 214 SM Pasukan Romawi di bawah komando Cladius Marcellus menyerang Syracuse dari segala penjuru, darat dan laut. Archimedes pun terlibat dalam pertempuran ini sebagai pembuat alat-alat perang seperti berbagai macam pelontar tali berisi peluru dan busur kecil penembak anak panah besi, ketapel, tuas, serta derek crane yang bisa menjatuhkan besi-besi ke kapal Pasukan Romawi.

Meski tidak secanggih alat perang sekarang, namun rekayasa sains buatan Archimedes ini sungguh cerdik dan berhasil menghalau pasukan Romawi berkali-kali.

4. Meninggal Tragis di Tangan Tentara Romawi Saat Dalam Keadaan Melakukan Percobaan


Kegigihan Romawi berhasil menemukan celah. Syracuse pun jatuh ke tangan Romawi pada 212 SM. Marcellus kemudian mendatangi Archimedes yang telah menghasilkan petaka bagi pasukannya itu. Archimedes saat itu sedang menggambar diagram-diagram di lantai pasir. Pikiran dan matanya hanya terfokus pada diagram yang digambarnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan situasi dan kondisi di sekitarnya.

Seorang prajurit pun datang meminta Archimedes untuk menghadap komandan mereka. Namun, Archimedes berkata bahwa dia akan menghadap setelah menyelesaikan problem dan memberikan pembuktiannya.

Sang prajurut hilang kesabaran dan maju dua langkah. Sepatu militernya seolah mengancam untuk menginjaknya sehingga Archimedes berkata, "tolong jangan merusak lingkaran-lingkaranku". Serdadu itu justru mengangkat pedang dan membunuh Archimedes yang telah tua. Ia menemui ajalnya dalam usia 75 tahun

5. Terkenal Karena Kehebatannya Mengaplikasikan Matematika, Penemuannya pun Dapat Digunakan Untuk Memudahkan Keperluan Sehari-Hari

Begitulah Archimedes, ia mencintai ilmu pengetahuan dan belajar untuk kepentingan ilmu tersebut. Kontribusinya dalam mempertahankan Syracuse, tanah kelahirannya menggambarkan penguasaaanya yang luar biasa mendalam terhadap aplikasi ilmu pengetahuan praktis.

Ia memaksa dirinya mempelajari berbagai disiplin ilmu matematika, fisika, mekanik, astronomi dan menjadi ahli dalam bidang ilmu tersebut. Dalam matematika murni, ia mendahului kalkulus integral melalui kajiannya terhadap luas dan volume bidang lengkung dan luas ruang.

Dalam mekanika, Archimedes menetapkan prinsip pengungkit dan disusul dengan penemuan katrol gabungan. Prestasi lain Archimedes ialah menciptakan sekrup hidrolik sederhana, sehunah alat untuk menaikkan air ke permukaan yang lebih tinggi. Alat itu hingga kini masih digunakan untuk mengairi ladang oleh petani di seluruh penjuru dunia.

Archimedes menghabiskan sebagian masa hidupnya di Sisilia, sekitar Syracuse. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk meneliti dan melakukan eksperimen.

Semoga Artikel ini bermanfaat dan memberikan kita inspiratif ya.



Sumber : Archimedes: Ahli Matematika dan Penemu Ulung dari Syracuse (idntimes.com)

Saturday, January 1, 2022

Prinsip dan Proses Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan

Pengantar Kurikulum Sekolah Penggerak

1. Pengantar Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan

Kurikulum operasional di satuan pendidikan memuat seluruh rencana proses belajar yang diselenggarakan di satuan pendidikan, sebagai pedoman seluruh penyelenggaraan pembelajaran. Untuk menjadikannya bermakna, kurikulum operasional satuan pendidikan dikembangkan sesuai dengan konteks dan kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan.


Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU Sisdiknas 2003). Pemerintah pusat menetapkan kerangka dasar struktur yang menjadi acuan untuk pengembangan kurikulum operasional satuan pendidikan.

Komponen dalam kurikulum operasional ini disusun untuk membantu proses berpikir dan mengembangkan satuan pendidikan. Dalam pengembanganya, dokumen ini juga merupakan hasil refleksi semua unsur pendidik di satuan pendidikan yang kemudian ditinjau secara berkala guna disesuaikan dengan dinamika perubahan dan kebutuhan peserta didik.

Prinsip Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan

  1. Berpusat pada peserta didik,  yaitu pembelajaran harus memenuhi keragaman potensi, kebutuhan perkembangan dan tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik. Profil Pelajar Pancasila selalu menjadi rujukan pada semua tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah.
  2. Kontekstual,  menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan lingkungan, serta dunia kerja dan industri (khusus SMK), dan menunjukkan karakteristik atau kekhususan peserta didik berkebutuhan khusus (khusus SLB).
  3. Esensial,  yaitu memuat semua unsur informasi penting/ utama yang dibutuhkan dan digunakan di satuan pendidikan. Bahasa yang digunakan lugas, ringkas dan mudah dipahami.
  4. Akuntabel, dapat dipertanggung jawabkan karena berbasis data dan aktual.
  5. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan kurikulum satuan pendidikan melibatkan komite satuan pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan antara lain orang tua, organisasi, berbagai sentra, serta industri dan dunia kerja SMK, di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan kewenangannya.

2. Komponen Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan

a. Karakteristik Satuan Pendidikan

Dari analisis konteks, dirumuskan karakteristik sekolah yang menggambarkan keunikan sekolah dalam hal peserta didik, sosial, budaya, pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk SMK, karakteristik meliputi satuan pendidikan dan program keahliannya.

b. Visi, Misi dan Tujuan

Visi

  • Menggambarkan bagaimana peserta didik menjadi subjek dalam tujuan jangka panjang sekolah dan nilai-nilai yang dituju.
  • Nilai-nilai yang mendasari penyelenggaraan pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai Profil Pelajar Pancasila.
Misi
  • Misi menjawab bagaimana sekolah mencapai visi
  • Nilai-nilai yang penting untuk dipegang selama menjalankan misi
Tujuan
  • Tujuan akhir dari kurikulum sekolah yang berdampak kepada peserta didik.
  • Tujuan menggambarkan tahapan (milestone) penting dan selaras dengan misi.
  • Strategi sekolah untuk mencapai tujuan pendidikannya.
  • Kompetensi/ karakteristik yang menjadi kekhasan lulusan sekolah tersebut dan selaras dengan Profil Pelajar Pancasila.

3. Komponen Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan

a. Pengorganisasian Pembelajaran

Cara sekolah mengatur muatan kurikulum dalam satu rentang waktu, dan beban belajar, cara sekolah mengelola pembelajarannya untuk mendukung pencapaian CP dan Profil Pelajar Pancasila.

  • Intrakurikuler. berisikan muatan/ mata pelajaran dan muatan tambahan lainnya jika ada (muatan lokal)
  • Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. menjelaskan pengelolaan projek yang mengacu pada Profil Pelajar Pancasila pada tahun ajaran tersebut. Untuk SMK projek penguatan ini terintegrasi dalam Pengembangan Karakter dan Budaya Kerja.
  • Praktik Kerja Lapangan (PKL untuk SMK) menyiapkan peserta didik agar memiliki pengalaman dan kompetensi di dunia kerja.
  • Ekstrakurikuler. gambaran ekstrakurikuler dalam bentuk matriks/ tabel.

b. Rencana Pembelajaran

Rencana pembelajaran untuk ruang lingkup sekolah : menggambarkan rencana pembelajaran selama setahun ajaran. Berisi alur pembelajaran/ unit mapping (untuk sekolah-sekolah yang sudah menjalankan pembelajaran secara integrasi), program prioritas satuan pendidikan.

c. Pendampingan, Evaluasi dan Pengembangan Profesional

Kerangka bentuk pendampingan, evaluasi dan pengembangan profesional yang dilakukan untuk peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan di satuan pendidikan. Pelaksanaan ini dilakukan oleh para pemimpin satuan pendidikan secara internal dan bertahap sesuai dengan kemampuan satuan pendidikan.

d. Lampiran

  • Contoh-contoh rencana pembelajaran ruang lingkup kelas :  menggambarkan rencana pembelajaran per tujuan pembelajaran dan/ atau per tema (untuk sekolah-sekolah yang sudah menjalankan pembelajaran secara integrasi).
  • Contoh penguatan Profil Pelajar Pancasila penjabaran pilihan tema dan isu spesifik yang menjadi projek yang sudah dikontekstualisasikan dengan kondisi lingkungan sekolah dan kebutuhan peserta didik, tidak perlu sampai perincian pembelajarannya).
  • Referensi landasan hukum atau landasan lain yang kontekstual dengan karakteristik sekolah.

4. Proses Penyusunan Kurikulum Oprasional di Satuan Pendidikan

Dalam penyelenggaraannya, kurikulum operasional sekolah perlu menjadi dokumen yang hidup, menjadi referensi dalam keseharian, direfleksikan dan terus dikembangkan. Penyusunan dokumen kurikulum operasional sekolah dari awal hendaknya dimulai dengan memahami secara utuh kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh Pemerintah, antara lain tujuan pendidikan nasional, Profil Pelajar Pancasila, SNP, Struktur Kurikulum, Prinsip Pembelajaran dan Asesmen, serta capaian pembelajaran. Khususnya untuk SMK ditambahkan dengan memahami kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja terkait.

a. Penyusunan Dokumen

  • Siapa yang akan memfasilitasi penyusunan ini ? siapa yang akan dilibatkan dalam penyusunan ini ?
  • Apakah sudah pernah dilakukan pembahasan kurikulum operasional oleh pemangku kepentingan internal ? (pimpinan sekolah dan pendidik)
  • Apakah sudah pernah dilakukan pebahasan kurikulum operasional sekolah oleh pemangku kepentingan eksternal, (meliputi : orang tua, komite satuan pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya yaitu , organisasi, berbagai sentra, serta industri dan dunia kerja untuk SMK) ?

b. Peninjauan dan Revisi

  • Siapa yang akan memfasilitasi peninjauan dan revisi ini ? siapa yang akan dilibatkan dalam peninjauan dan revisi ?
  • Apakah satuan pendidikan memiliki dokumen kurikulum operasional sekolah yang sebagian atau seluruh isinya merepresentasikan satuan pendidikan ?
  • Apakah ada diskusi/ kerja kolaborasi untuk menyusun kurikulum operasional sekolah yang setidaknya melibatkan para pimpinan atau perwakilan pendidik ?
  • Apakah ada informasi atau pembahasan yang disampaikan kepada orang tua mengenai kurikulum dan atau program-program ?
  • Khusus untuk SMK, apakah substansi kurikulum yang ada masih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja ?
Semoga artikel ini bermanfaat ya,

Thursday, December 30, 2021

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Penguatan Pendidikan Karakter Menjadi Kunci Pembenahan Pendidikan Nasional

Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam Nawa Cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Untuk sekolah dasar sebesar 70%, sedangkan untuk sekolah menengah pertama sebesar 60%. 

Gerakan Penguatan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan, "pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. kala itu.

Tak hanya olah pikir (literasi), PPK mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etika dan spiritual) olah rasa (estetika), dan juga olah raga (kinestetik) keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses pembelajaran Intrakurikuler, Kokurikuler dan Ekstrakurikuler di sekolah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan.

Lima Nilai Karakter Utama

Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yaitu menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK, yaitu : religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan gotongroyong. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berintegrasi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antara pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan polotik bangsa, menentukan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya, rela berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku dan agama.

Adapun nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegrasi juga menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberaniaan dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/ pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan siswa dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan dan sikap kerelawanan.

Penguatan Tri Pusat Pendidikan

"PPK ini merupakan pintu masuk untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap pendidikan kita," disampaikan Mendikbud kepada Tim Implementasi PPK yang terdiri dari berbagai unsur pemangku pendidikan beberapa waktu yang lalu, kala itu.

Menurut Mendikbud, PPK tidak mengubah struktur kurikulum, namun memperkuat Kurikulum 2013 yang sudah memuat pendidikan karakter itu. Dalam penerapannya, dilakukan sedikit modifikasi intrakurikuler agar lebih memiliki muatan pendidikan karakter. Kemudian ditambahkan kegiatan dalam kokurikuler dan ekstrakurikuler. Integrasi ketiganya diharapkan dapat menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif anak didik.

"Prinsipnya, manajemen berbasis sekolah, lalu lebih banyak melibatkan siswa pada aktivitas dari pada metode ceramah, kemudian kurikulum berbasis luas atau broad based curriculum yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar, "tutur Mendikbud menambahkan.

PPK mendorong sinergi tiga pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga (orang tua), serta komunitas (masyarakat) agar dapat membentuk suatu ekosistem pendidikan. Menurut Mendikbud, selama ini ketiga seakan berjalan sendiri-sendiri, padahal jika bersinergi dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Diharapkan manajemen berbasis sekolah semakin menguat, dimana sekolah berperan menjadi sentra, dan lingkungan sekitar dapat dioptimalkan untuk menjadi sumber-sumber belajar.

Mengembalikan Jati Diri Guru

"Peran guru sangat penting dalam pendidikan dan ia menjadi sosok yang mencerahkan, yang membuka alam dan pikiran serta jiwa, memupuk nilai-nilai kasih sayang, nilai-nilai keteladanan, nilai-nilai perilaku, nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kebhinekaan. Inilah sejatinya pendidikan karakter yang menjadi inti dari pendidikan yang sesungguhnya,"disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2017 kala itu.

Menurut Mendikbud, kunci kesuksesan pendidikan karakter terletak pada peran guru. Sebagaimana Ki Hajar Dewantara, "ing ngarso sung tuladho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani", maka seorang guru idealnya memiliki kedekatan dengan anak didiknya. Guru hendaknya dapat melekat dengan anak didiknya sehingga dapat mengetahui perkembangan anak didiknya. Tidak hanya dimensi intelektual saja, namun juga kepribadian setiap anak didiknya.

Tidak hanya sebagai pengajar mata pelajaran saja, namun guru mampu berperan sebagai fasilitator yang membantu anak didik mencapai target pembelajaran. Guru juga harus mampu bertindak sebagai penjaga gawang yang membantu anak didik menyaring berbagai pengaruh buruk yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya. Seorang guru juga mampu berperan sebagai penghubung anak didik dengan berbagai sumber-sumber belajar yang tidak hanya ada di dalam kelas atau sekolah. Dan sebagai katalisator, guru juga mampu menggali dan mengoptimalkan potensi setiap anak didik.

Saat ini, melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2008 menjadi PP Nomor 19 Tahun 2017, Kemendikbud mendorong perubahan paradigma para guru agar mampu melaksanakan perannya sebagai pendidik profesional yang tidak hanya mampu mencerdaskan anak didik, namun juga membentuk karakter positif mereka agar menjadi generasi emas Indonesia dengan kecakapan abad ke-21.

Berdasarkan Pasal 15 PP Nomor 19 Tahun 2017, pemenuhan beban kerja guru dapat diperoleh dari ekuivalensi beban kerja tugas tambahan. Kegiatan lain di luar kelas yang berkaitan dengan pembelajaran juga dapat dikonversi ke jam tatap muka. "Guru tidak perlu lagi cari-cari tambahan mengajar di luar sekolahnya untuk memenuhi beban kerja mengajar. Dia harus bertanggung jawab terhadap perkembangan siswanya, "kata Mendikbud kala itu menambahkan.

Sumber :

Artikel Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Wednesday, December 29, 2021

Menuju Sekolah Adiwiyata

Selangkah Menuju Sekolah Adiwiyata

Logo Adiwiyata

A. Pengertian Adiwiyata

a

Mars Sekolah Adiwiyata
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=IQPUUxG8opw

Adiwiyata atau Green School adalah salah satu program kementerian negara lingkungan hidup yang bertujuan untuk mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam pelestarian lingkungan hidup.

Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata mengatakan bahwa sekolah adiwiyata adalah sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan dan program adiwiyata adalah program untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.

Adiwiyata memiliki pengertian atau makna sebagai salah satu tempat yang baik dan juga ideal yang diperoleh segala ilmu pengetahuan dan beragai norma serta etika yang menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita untuk menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan. 

Fungsi program adiwiyata adalah agar seluruh pelajar ikut terlibat dalam segala aktivitas persekolahan demi menuju lingkungan yang sehat serta mampu menghindari dampak lingkungan yang negatif. 


Berdasarkan pengertian Adiwiyata dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 2 Tahun 2009 tentang pedoman pelaksanaan program adiwiyata. Pengertian adiwiyata pada pasal 1 adalah sekolah yang baik dan ideal sebagai tempat memperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup dan cita-cita pembangunan berkelanjutan. 

Sedangkan pada pasal 1 point 2, bahwa Program Adiwiyata adalah salah satu program kerja berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka mewujudkan pengembangan pendidikan lingkungan hidup. 

Adapun pedoman pelaksanaan program Adiwiyata bertujuan untuk memberikan acuan kerja pelaksanaan program Adiwiyata bagi tim peninjau lapangan program Adiwiyata. 

Menurut Arjuna dan Salmonsius yang dikutip oleh Saragih (2012), ketika sebuah sekolah sudah mengikuti program Adiwiyata maka sekolah tersebut akan mendapatkan bantuan dana pendampingan, sesuai dengan kebutuhan yang diajukan oleh sekolah dan disetujui oleh Kementrian Lingkungan Hidup.


B. Tujuan Adiwiyata 

Tujuan sekolah Adiwiyata yang secara umum menerangkan untum mewujudkan masyarakat sekolah yang peduli dan juga berbudaya dalam lingkungan dengan: 
Menciptakan kondisi yang lebih baik bagi sekolah untuk menjadi wadah pembelajaran dan juga penyadaran segenap warga sekolah diantaranya Murid, Guru, Orang Tua/Wali Murid, dan lingkungan masyarakat demi terciptanya upaya pelestarian lingkungan hidup. 

Warga sekolah turut bertanggung jawab dalam mengupayakan penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. 

Mendorong dan membantu sekolah untuk turut serta dalam melaksanakan upaya pemerintah demi melestarikan lingkungan hidup dalam pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan demi hadirnya kepentingan generasi yang akan datang. 

C. Target Sasaran Adiwiyata

Target sasaran Adiwiyata terdapat pada pendidikan formal setingkat SD, SMP, SMA atau sederajad. Hal itu bukanlah sebab, lantaran sekolah menjadi target pelaksanaan karena sekolah memiliki fungsi atau peran yang turut andil dalam membentuk nilai-nilai kehiudpan, khususnya nilai akan kepedulian berbudaya lingkungan hidup. 
Dalam melaksanakan program Adiwiyata tersebut, sekolah-sekolah mendapatkan penilaian dan jug akan diberikan berupa penghargaaan yang diberikan secara berjenjang. 

D. Jenis-Jenis Penghargaan Adiwiyata 

Jenjang atau jenis penghargaan Adiwiyata yang mampu diterima oleh sekolah dengna tingkatan sebagai berikut: 
  • Penghargaan Adiwiyata Kabupaten/Kota, penghargaan yang diberikan oleh Bupati/Walikota.
  • Penghargaan Adiwiyata Nasional yakni penghargaan yang diberikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
  • Penghargaan Adiwiyata tingkat Provinsi merupakan penghargaan yang diberikan oleh Gubernur.
  • Penghargaan Adiwiyata Mandiri merupakan penghargaan khusus bagi setiap sekolah dengan penilaian berupa sekolah yang mempunyai minimal 10 sekolah binaan yang telah mendapatkan penghargaan Adiwiyata Kabupaten/Kota, penghargaan yang diberikan oleh Presiden. 

E. Kriteria Penilaian Penghargaan Adiwiyata 

Kriteria penilaian penghargaan Adiwiyata terdiri dari 4 aspek antara lain: 
  • Aspek kebijakan sekolah yang memiliki wawasan lingkungan hidup.
  • Aspek kurikulum sekolah yang berbasis lingkungan hidup.
  • Aspek pengelolaan sarana dan prasarana pendukung sekolah yang ramah lingkungan.
  • Aspek kegiatan lingkungan di sekolah yang berbasis partisipatif.

F. Manfaat Program Adiwiyata

Manfaat program Adiwiyata adalah diharapkan bagi setiap sekolah dalam menerapkan Program Adiwiyata tersebut dapat menerapkan bagi pelajar, proses belajar dan hasil pembelajaran khusus bagi peserta didik. Adapun manfaat program adiwiyata antara lain: 
  • Mengubah perilaku warga sekolah untuk melakukan budaya pelestarian lingkungan.
  • Meningkatkan penghematan sumber dana melalui pengurangan sumber daya dan energi.
  • Dapat menghindari sejumlah resiko dampak lingkungan yang terdapat di wilayah sekolah.
  • Meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan operasional sekolah.
  • Menciptakaan kondisi kebersamaan bagi semua warga sekolah.
  • Menjadikan tempat pembelajaran bagi generasi muda tentang pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan juga benar.
  • Meningkatkan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif bagi segenap seluruh warga sekolah. 

G. Prinsip Program Adiwiyata 

Dalam pelaksanaannya, program Adiwiyata diletakkan dalam tiga prinsip-prinsip dasar dalam pelaksanaannya. Adapun prinsip tersebut antara lain: 
  1. Partisipatif: Komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran.
  2. Berkelanjutan: Seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif.
  3. Edukatif (Permen LH, 2013). 
Menurut Chaeruddin (2009:12) bahwa dalam pelaksanaan program Adiwiyata diletakkan pada dua prinsip antara lain: 
  1. Partisipatif, maksudnya dimana seluruh komponen sekolah terlibat dalam keseluruhan proses yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berdasarkan tanggung jawab dan perannya masing-masing.
  2. Berkelanjutan (sustainable), yang diartikan kepada seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komperehensif. 

Semoga Artikel ini bermanfaat ya!