Showing posts with label Profil Pelajar Pancasila. Show all posts
Showing posts with label Profil Pelajar Pancasila. Show all posts

Wednesday, August 31, 2022

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran-Pemikiran Ki Hajar Dewantara

 

Pendidikan dan pengajaran tidak dapat dipisahkan. Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau faedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pancasila (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.

Ki Hajar Dewantara memberikan pemikiranya tentang dasar-dasar pendidikan. Menurut KHD, pendidikan bertujuan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak.


Klik Shopee.Co.Id

Peran pendidik diibaratkan seorang petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamanya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuannya. Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berpikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.


Ki Hajar Dewantara juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang ada namun tidak semua yang baru itu baik, jadi perlu diselaraskan dulu. Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sumber belajar. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukkan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.

Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamanya agar mereka bisa hidup berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan kecakapan abad 21.  Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.

Dalam pembelajaran di kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka bermain. Lihatlah ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka rasakan adalah kegembiraan dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati dan pikirannya. Hendaknya guru juga memasukkan unsur-unsur permainan dalam pembelajaran agar anak-anak senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran melalui permainan, kita juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan kebudayaan.

Hal terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), menuntun proses belajarnya (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani) bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil, berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan keselamatan.

Sumber : https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/kesimpulan-dan-refleksi-pemikiran-pemikiran-ki-hajar-dewantara/ 

Sunday, June 5, 2022

Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM)

 


Guna mendukung Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), Kemendikbudristek memberikan dukungan pembelajaran implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri dan dukungan pendataan Implementasi Kurikulum Merdeka jalur mandiri. Dari pendataan tersebut akan didapatkan calon satuan Pendidikan yang berminat dan mereka akan memperoleh pendampingan pembelajaran untuk Implementasi Kurikulum Jalur Mandiri.

Setelah pendataan, Kemendikbudristek akan memberikan angket kesiapan implementasi Kurikulum Merdeka kepada satuan pendidikan yang berminat. Isi dari angket tersebut tidak ada salah atau benar. Angket kesiapan ini guna mengetahui pilihan implementasi mana yang cocok dengan kesiapan dan keadaan satuan pendidikan.

Ada tiga pilihan Implementasi Kurikulum Merdeka jalur mandiri yang bisa diaplikasikan, yaitu Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, dan Mandiri Berbagi. Berikut penjelasan dari masing-masing pilihan :

1. Mandiri Belajar

Pilihan mandiri belajar memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan saat menerapkan kurikulum merdeka beberapa bagian dan prinsip kurikulum merdeka, tanta mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

2. Mandiri Berubah

Mandiri berubah memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan saat menerapkan kurikulum merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

3. Mandiri Berbagi

Pilihan mandiri berbagi akan memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan dalam menerapkan kurikulum merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Demikian informasi berkaitan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terima Kasih.

Link Penting :

https://linktr.ee/pmerdekamengajar

https://s.id/kurikulum-merdeka

https://guru.kemdikbud.go.id/   (platform merdeka mengajar versi web)

https://kurikulum.kemdikbud.go.id/kurikulum-2013/

https://buku.kemdikbud.go.id/ (buku)

Sumber : https://ditsmp.kemdikbud.go.id/kenali-3-opsi-ini-sebelum-mendaftar-implementasi-kurikulum-merdeka-jalur-mandiri/

Friday, February 11, 2022

Kerangka dan Struktur Kurikulum Prototipe 2022

Kerangka dan Struktur Kurikulum

Kita perlu melihat alur kerangka penyusunan kurikulum yaitu : (1) Tujuan Pendidikan Nasional (Profil Pelajar Pancasila); (2) Standar Kompetensi Lulusan; yang dijabarkan menjadi (2a) Standar Isi, (2b) Standar Proses, (2c) Standar Penilaian Pendidikan; Selanjutnya diturunkan menjadi (3) yaitu (3a) Struktur Kurikulum, (3b) Capaian Pembelajaran, (3c) Prinsip Pembelajaran dan Asesmen yang ketiganya ini ditetapkan oleh pemerintah. Berupa Perangkat ajar : Buku Teks Pelajaran, Contoh Modul ajar Mata Pelajaran, Contoh Panduan Projek Profil Pelajar Pancasila, Contoh Kurikulum Satuan Pendidikan. Terakhir diturunkan menjadi Kurikulum Operasional dikembangkan di satuan pendidikan (merdeka dikembangkan di sekolah).


Gambar 1. Kerangka Dasar Kurikulum Prototipe

Prinsip Perancangan Kurikulum

Kurikulum yang disederhanakan dan lebih fleksibel sehingga selaras dengan semangat merdeka belajar.


Otonomi Sekolah dan Guru Mudah Diterapkan Gotong-Royong
Pemerintah menetapkan struktur kurikulum minimum dan prinsip pembelajaran dan asesmen. Satuan pendidikan dapat mengembangkan program dan kegiatan tambahan sesuai dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia Tujuan, arah perubahan, dan rancangannya jelas sehingga mudah dipahami oleh sekolah serta pemangku kepentingan Pengembangan kurikulum dan perangkat ajarnya dilakukan dengan melibatkan puluhan institusi termasuk Kemenag, Universitas, Sekolah dan Lembaga Pendidikan Lainnya
Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk mengorganisasikan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa dan konteks lokal Pemerintah menyediakan perangkat ajar untuk membantu satuan pendidikan dan guru yang membutuhkan panduan dalam merancang kurikulum dan pembelajaran Sekolah dianjurkan melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan kurikulum operasionalnya masing-masing berdasarkan kerangka kurikulum

Kurikulum Ini Meneruskan Proses Peningkatan Kualitas Pembelajaran Yang Telah Diinisiasi Kurikulum-Kurikulum Sebelumnya


Berbasis Kompetensi Karakter Pancasila
Pengetahuan, keterampilan, dan sikap dirangkaikan sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh, dinyatakan sebagai Capaian Pembelajaran (CP) Sinergi antara kegiatan pembelajaran rutin sehari-hari di kelas dengan kegiatan non rutin interdisipliner (projek) yang berorientasi pada pembentukan dan penguatan karakter berdasarkan kerangka Profil Pelajar Pancasila
Penguatan fondasi literasi di PAUD dan SD Menguatkan penerapan teori pembelajaran karakter, yaitu melalui kegiatan projek yang kontekstual dan berpusat pada siswa
Fleksibelitas dalam pengorganisasian pembelajaran agar pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kecepatan belajar siswa



Penentuan Pendekatan Untuk Pengorganisasian Pembelajaran Merupakan Wewenang Satuan Pendidikan

Seluruh jenjang satuan pendidikan dapat menggunakan pendekatan berbasis mata pelajaran, tematik, unit inkuiri, kolaborasi lintas mata pelajaran, ataupun paduannya sesuai dengan peraturan menteri

  • Pendekatan tematik terbatas pada SD
  • SD tidak harus menggunakan tematik. Namun tidak ada larangan untuk satuan pendidikan yang mau tetap menggunakan pendekatan ini.
  • Tidak harus satu pendekatan untuk seluruh mata pelajaran, dapat dikombinasikan
  • Keleluasaan kolaborasi antar mata pelajaran untuk melakukan asesmen lintas mata pelajaran
Mengintegrasikan Pembelajaran dan/atau asesmen dapat :
  • Mengurangi beban belajar siswa, karena asesmen yang berorientasi pada kompetensi biasanya membutuhkan lebih banyak usaha siswa (dan guru yang menilainya)
  • Pembelajaran dan asesmen yang lebih bermakna

Jam Pembelajaran (JP) diatur oleh Pusat Per Tahun bukan Per Minggu

Siswa tidak harus mempelajari yang sama setiap minggu sepanjang tahun.

Target JP untuk satu tahun bisa dicapai kurang dari satu tahun. Contohnya skenario di SD :

  • Mapel seni rupa dipelajari secara intensif dalam semester ganjil dan asesmen sumatifnya berupa pameran karya.
  • Di semester ganjil tersebut ada mata pelajaran lain yang dikurangi JP-nya, yaitu mapel IPA.
  • Di semester genap mapel seni rupa tersebut tidak diajarkan, dan mapel IPA akan dipelajari siswa secara intensif seperti halnya seni di semester ganjil, dengan asesmen sumatif pameran hasil penelitian siswa.

Struktur Kurikulum Terbagi Menjadi Dua Kegiatan Utama, Yaitu Kegiatan Rutin di Kelas (Intrakurikuler) dan Kegiatan Projek

Jumlah JP tidak berubah dari kurikulum 2013, namun sekitar 20-30% dari JP/tahun dialokasikan untuk pembelajaran melalui proyek yang ditujukan untuk mencapai profil pelajar pancasila.

Kegiatan projek penguatan profil pelajar pancasila tersebut tidak berbasis mata pelajaran. Jam pelajaran untuk setiap mapel dialihkan karena :

  1. Tidak ada penambahan JP untuk siswa (JP) yang ada saat ini sudah cukup panjang), dan
  2. Diasumsikan bahwa kompetensi esensial * dari seluruh mata pelajaran akan dipelajari juga melalui projek.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Adalah Kegiatan Yang Fleksibel, Tidak Rutin/ Terstruktur, dan Lebih Berpusat Pada Siswa

Fleksibelitas dan Berpusat Pada Siswa

  • Projek dilakukan 2-3 kali dalam satu tahun sesuai jenjang, jangka waktu masing-masing projek tidak harus sama
  • Tidak perlu ada kegiatan belajar, karena siswa dapat melakukan penelitian, pengerjaan karya, dsb, sesuai kebutuhan mereka. Hal ini mendorong self-regulated learning.
Kontekstual
  • Pemerintah pusat hanya menentukan tema yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan
  • Satuan pendidikan mengembangkan topik yang lebih spesifik dari tema tersebut, sesuai dengan tahap capaian pembelajaran siswa.

Struktur Kurikulum SMP

Penguatan wawasan literasi di SMP

Kurikulum 2013

Informatika sebagai pelajaran pilihan (pertimbangan ketersediaan guru)

Arah perubahan kurikulum

Informatika sebagai mata pelajaran wajib (Guru yang mengajar tidak harus memiliki latar belakang pendidikan informatika. Buku guru disiapkan untuk membantu guru-guru "pemula" dalam mata pelajaran ini.

Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan

Apa Kurikulum Operasional Itu ?



Wednesday, January 5, 2022

KARTU INDONESIA PINTAR (KIP)

Kartu Indonesia Pintar : Apa itu, Manfaat dan Siapa Berhak Menerima 

Indonesia terus berbenah setelah resmi memiliki pemimpin atau presiden yaitu Joko Widodo dan Wakil Jusuf Kalla kala itu, beberapa program pun meluncur. Tepat pada tanggal 3 November 2014 tahun lalu Presiden Jokowi meluncurkan program perdananya, yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di lima kantor pos di Jakarta, yaitu Kantor Pos Pasar Baru, Kantor Pos Kebon Bawang, Kantor Pos Jalan Pemuda, Kantor Pos Mampang dan Kantor Pos Fatmawati. Untuk KIP sendiri sebanyak 230 anak usia sekolah di DKI Jakarta menerima program ini pada peluncuran tahap awal ini. Lalu apa program KIP itu sendiri ? Apa manfaat dan bagaimana mekanisme pembagian kartu yang dianggap sakti ini ? Berikut ulasannya.

Apa itu KIP ?

KIP sendiri merupakan kartu yang ditujukan bagi keluarga miskin dan rentan miskin yang ingin menyekolahkan anaknya yang berusia 7-18 tahun secara gratis. Mereka yang mendapat KIP ini akan diberikan dana tunai dari pemerintah secara reguler yang tersimpan dalam fungsi kartu KIP untuk bersekolah secara gratis tanpa biaya. Program KIP sendiri akan ditujukan pada 15,5 juta keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia yang memiliki anak usia sekolah 7 hingga 18 tahun baik yang telah terdaftar maupun yang belum terdaftar di sekolah maupun madrasah. Dengan program KIP ini diharapkan angka putus sekolah bisa turun dengan drastis.

Penyebaran dan Pembagian KIP

Pada tahap awal yaitu bulan November hingga Desember 2014, pemerintah telah menyebarkan Kartu Indonesia Pintar ini pada 157.943 anak usia sekolah dan keluarga kurang mampu. Selanjutnya, secara bertahap KIP juga sudah dibagikan kepada 24 juta anak usia sekolah, termasuk anak usia sekolah penyandang masalah kesejahteraan sosial dan anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu yang selama ini tidak dijamin.

Segera setelah diluncurkan awal diselenggarakan di Jakarta, maka penyebaran berikut-berikutnya kala itu telah dilakukan di 19 Kabupaten/Kota, yaitu Jembrana, Pandeglang, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Cirebon, Kota Bekasi, Kuningan, Kota Semarang, Tegal Banyuwangi, Kota Surabaya, Kota Balikpapan, Kota Kupang, Mamuju Utara, Kota Pematang Siantar dan Karo. Peluncuran tersebut telah selesai pada pertengahan bulan Desember 2014.

Tujuan Program KIP


Program ini sendiri ditujukan untuk menghilangkan hambatan ekonomi siswa untuk bersekolah, sehingga nantinya membuat anak-anak tidak lagi terpikir untuk berhenti sekolah. Selain menghindari anak putus sekolah, program KIP ini juga dibuat untuk bisa menarik kembali siswa yang telah putus sekolah agar kembali bersekolah. Bukan hanya tentang biaya administrasi sekolah, program ini juga bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran. Lebih luas lagi, program dalam KIP ini juga sangat mendukung untuk mewujudkan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan pendidikan menengah universal/ wajib belajar 12 tahun.

Manfaat Kartu Indonesia Pintar (KIP)

Kartu Indonesia Pintar (KIP) sendiri memiliki beberapa manfaat yaitu :

  • Kartu Indonesia Pintar (KIP) diberikan sebagai penanda dan digunakan untuk menjamin serta memastikan seluruh anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang KKS untuk mendapatkan manfaat Program Indonesia Pintar bila terdaftar di Sekolah, Madrasah, Pondok Pesantren, Kelompok Belajar atau Lembaga Pelatihan maupun Kursus.
  • Untuk tahap wala di 2014 lalu, KIP telah dicetak untuk sekitar 160 ribu siswa di sekolah umum dan juga madrasah di 19 Kabupaten/Kota. Untuk 2015, juga telah diberikan kepada 20.3 Juta anak usia sekolah baik dari keluarga penerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) atau memenuhi kriteria yang ditetapkan (seperti anak dari keluarga peserta PKH).
  • KIP juga mencakup anak usia sekolah yang tidak berada di sekolah seperti Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti anak-anak di panti asuhan/ sosial, anak jalanan dan pekerja anak dan difabel. KIP juga berlaku di pondok pesantren, pusat kegiatan belajar masyarakat dan lembaga kursus dan pelatihan yang ditentukan oleh pemerintah.
  • KIP mendorong pengikut sertaan anak usia sekolah yang tidak lagi terdaftar di satuan pendidikan untuk kembali bersekolah.
  • KIP menjamin keberlanjutan bantuan antar jenjang pendidikan sampai tingkat SMA/K/MA

Prioritas Penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP)


Penerima program KIP ini sendiri diprioritaskan pada :

  • Penerima BSM dari Pemegang KPS yang telah ditetapkan dalam SP2D 2014.
  • Anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang KPS/KKS yang belum ditetapkan sebagai penerima manfaat BSM.
  • Anak usia sekolah (6- 21 tahun) dari keluarga peserta PKH
  • Anak usia sekolah (6-21 tahun) yang tinggal di panti asuhan/sosial.
  • Anak usia (6-21 tahun) berupa santri dari podok pesantren yang memiliki KPS/KKS.
  • Anak usia (6-21 tahun) yang terancam putus sekolah karena kesulitan ekonomi.
  • Anak usia sekolah yang belum atau tidak lagi bersekolah yang datanya telah dapat direkapitulasi pada semester 2 TA 2014/2015.

Kartu Indonesia Pintar Menggunakan Data Siswa Berbasis Keluarga

Meski telah mengantongi data penerima KIP, pemerintah tetap saja mendapat sejumlah kritikan karena data yang digunakan dinilai sudah tidak sesuai sebab merupakan data lama. Menanggapi hal tersebut Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah kala itu yang masih dijabat oleh Anies Baswedan mengakui data yang digunakan saat ini masih menggunakan data lama yang berbasis sekolah. Setelah itu diubah dan diberlakukanlah data berbasis keluarga. Harapan dengan menyasar dengan data berbasis keluarga akan menyasar lebih banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Semoga artikel ini bermanfaat ya.

Sumber : 

Thursday, December 30, 2021

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Penguatan Pendidikan Karakter Menjadi Kunci Pembenahan Pendidikan Nasional

Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam Nawa Cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Untuk sekolah dasar sebesar 70%, sedangkan untuk sekolah menengah pertama sebesar 60%. 

Gerakan Penguatan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan, "pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. kala itu.

Tak hanya olah pikir (literasi), PPK mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etika dan spiritual) olah rasa (estetika), dan juga olah raga (kinestetik) keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses pembelajaran Intrakurikuler, Kokurikuler dan Ekstrakurikuler di sekolah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan.

Lima Nilai Karakter Utama

Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yaitu menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK, yaitu : religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan gotongroyong. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berintegrasi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antara pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan polotik bangsa, menentukan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya, rela berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku dan agama.

Adapun nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegrasi juga menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberaniaan dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/ pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan siswa dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan dan sikap kerelawanan.

Penguatan Tri Pusat Pendidikan

"PPK ini merupakan pintu masuk untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap pendidikan kita," disampaikan Mendikbud kepada Tim Implementasi PPK yang terdiri dari berbagai unsur pemangku pendidikan beberapa waktu yang lalu, kala itu.

Menurut Mendikbud, PPK tidak mengubah struktur kurikulum, namun memperkuat Kurikulum 2013 yang sudah memuat pendidikan karakter itu. Dalam penerapannya, dilakukan sedikit modifikasi intrakurikuler agar lebih memiliki muatan pendidikan karakter. Kemudian ditambahkan kegiatan dalam kokurikuler dan ekstrakurikuler. Integrasi ketiganya diharapkan dapat menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif anak didik.

"Prinsipnya, manajemen berbasis sekolah, lalu lebih banyak melibatkan siswa pada aktivitas dari pada metode ceramah, kemudian kurikulum berbasis luas atau broad based curriculum yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar, "tutur Mendikbud menambahkan.

PPK mendorong sinergi tiga pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga (orang tua), serta komunitas (masyarakat) agar dapat membentuk suatu ekosistem pendidikan. Menurut Mendikbud, selama ini ketiga seakan berjalan sendiri-sendiri, padahal jika bersinergi dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Diharapkan manajemen berbasis sekolah semakin menguat, dimana sekolah berperan menjadi sentra, dan lingkungan sekitar dapat dioptimalkan untuk menjadi sumber-sumber belajar.

Mengembalikan Jati Diri Guru

"Peran guru sangat penting dalam pendidikan dan ia menjadi sosok yang mencerahkan, yang membuka alam dan pikiran serta jiwa, memupuk nilai-nilai kasih sayang, nilai-nilai keteladanan, nilai-nilai perilaku, nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kebhinekaan. Inilah sejatinya pendidikan karakter yang menjadi inti dari pendidikan yang sesungguhnya,"disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2017 kala itu.

Menurut Mendikbud, kunci kesuksesan pendidikan karakter terletak pada peran guru. Sebagaimana Ki Hajar Dewantara, "ing ngarso sung tuladho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani", maka seorang guru idealnya memiliki kedekatan dengan anak didiknya. Guru hendaknya dapat melekat dengan anak didiknya sehingga dapat mengetahui perkembangan anak didiknya. Tidak hanya dimensi intelektual saja, namun juga kepribadian setiap anak didiknya.

Tidak hanya sebagai pengajar mata pelajaran saja, namun guru mampu berperan sebagai fasilitator yang membantu anak didik mencapai target pembelajaran. Guru juga harus mampu bertindak sebagai penjaga gawang yang membantu anak didik menyaring berbagai pengaruh buruk yang berdampak tidak baik bagi perkembangannya. Seorang guru juga mampu berperan sebagai penghubung anak didik dengan berbagai sumber-sumber belajar yang tidak hanya ada di dalam kelas atau sekolah. Dan sebagai katalisator, guru juga mampu menggali dan mengoptimalkan potensi setiap anak didik.

Saat ini, melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2008 menjadi PP Nomor 19 Tahun 2017, Kemendikbud mendorong perubahan paradigma para guru agar mampu melaksanakan perannya sebagai pendidik profesional yang tidak hanya mampu mencerdaskan anak didik, namun juga membentuk karakter positif mereka agar menjadi generasi emas Indonesia dengan kecakapan abad ke-21.

Berdasarkan Pasal 15 PP Nomor 19 Tahun 2017, pemenuhan beban kerja guru dapat diperoleh dari ekuivalensi beban kerja tugas tambahan. Kegiatan lain di luar kelas yang berkaitan dengan pembelajaran juga dapat dikonversi ke jam tatap muka. "Guru tidak perlu lagi cari-cari tambahan mengajar di luar sekolahnya untuk memenuhi beban kerja mengajar. Dia harus bertanggung jawab terhadap perkembangan siswanya, "kata Mendikbud kala itu menambahkan.

Sumber :

Artikel Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Saturday, December 4, 2021

Merdeka Belajar Itu Seperti Apa Sih ?

Konsep Merdeka Belajar


Merdeka Belajar Episode 1 Mengenai Kebijakan USBN, UN, RPP dan PPDB


Dalam episode pertama Mendikbudmenghadirkan terobosan empat pokok kebijakan, agar paradigma dan cara lama belajar dan mengajar dapat bertransformasi kearah kemajuan.

  • Menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)
  • Mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional (AN)
  • Penyederhanaan RPP Guru
  • Adaptasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020

Terkait penggantian UN, Mas Menteri Nadiem menjelaskan, mengganti UN dengan AN bertujuan agar tidak ada lagi diskriminasi bagi murid yang tidak mampu mem-bimbelkan anak. Sebab AN akan menjadi evaluasi kepala sekolah dan sistemnya.

Merdeka Belajar Episode 2 "Kampus Merdeka"

  • Mempermudah pembukaan program studi baru
  • Sistem akreditasi perguruan tinggi dipermudah
  • Mempermudah perguruan tinggi untuk menjadi PTN Berbadan Hukum
  • Hak mahasiswa untuk belajar tiga semester di luar program strudi

Merdeka Belajar Episode 3 "Penyesuaian Kebijakan Dana BOS"

  • Penyaluran Dana BOS langsung ke rekening sekolah
  • Penggunaan Dana BOS lebih fleksibel untuk sekolah
  • Nilai satuan Dana BOS meningkat
  • Pelaporan Dana BOS lebih transparan dan akuntabel

Merdeka Belajar Episode 4 "Program Organisasi Penggerak"

Mas Menteri Nadiem menyebut, Program Organisasi Penggerak (POP) memberikan kesempatan kepada organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan untuk membuktikan kemampuan mereka mentransformasikan sekolah

Merdeka Belajar Episode 5 "Guru Penggerak"

Guru Penggerak, Mas Menteri Nadiem menjelaskan merupakan program transformasi kepemimpinan sekolah. Dimana guru-guru penggerak akan diidentifikasi dan dilatih untuk menjadi calon-calon Kepala Sekolah, Pengawas dan Pengajar Guru di Masa Depan Indonesia.

Merdeka Belajar Episode 6 "Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi"

Mencakup tiga terobosan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia, salah satunya mencakup delapan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi landasan transformasi pendidikan tinggi.

Delapan IKU itu mendorong universitas untuk mencari mitra di lautan terbuka, mendorong universitas mengundang praktisi untuk mengajar, mendorong mahasiswa dan dosen keluar dari kampus dan mendorong riset yang bisa diterapkan dan bermanfaat untuk masyarakat.

Adapun 8 kriteria atau Indikator Kinerja Utama (IKU), yaitu :

  1. Lulusan mendapatkan pekerjaan yang layak.
  2. Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus
  3. Dosen berkegiatan di luar kampus
  4. Praktisi mengajar di dalam kampus
  5. Hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat
  6. Program studi bekerjasama dengan mitra kelas dunia
  7. Kelas yang kolaboratif dan partisipatif
  8. Program studi berstandar internasional

Merdeka Belajar Episode 7 "Program Sekolah Penggerak"

Mendikbud mengatakan, Program Sekolah Penggerak merupakan katalis untuk mewujudkan visi reformasi pendidikan indonesia yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik melalui enam Profil Pelajar Pancasila.

Secara umum, Program Sekolah Penggerak terfokus pada pengembangan SDM sekolah, mulai dari siswa, guru, sampai kepala sekolah. Kualitas siswa diukur melalui pencapaian hasil belajar di atas level yang diharapkan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif dan menyenangkan.

Merdeka Belajar Episode 8 "SMK Pusat Keunggulan"

SMK Pusat Keunggulan merupakan terobosan komprehensif yang ditujukan untuk menjawab tantangan dalam rangka pembenahan kondisi SMK saat ini, agar semakin sejalan dengan kebutuhan dunia kerja.

Program SMK Pusat Keunggulan diharaapkan menjadi perwujudan visi Presiden Joko Widodo terkait pembenahan pendidikan vokasi sebagai strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesai.

Adapun 8 aspek "link and match"

  1. Kurikulum disusun bersama sejalan dengan penguatan aspek softskill, hard skills, dan karakter kebekerjaan sesuai kebutuhan dunia kerja.
  2. Project base learning : pembelajaran diupayakan berbasis proyek riil dari dunia kerja (project based learning) untuk memastikan hardskills, softskills dan karakter yang kuat.
  3. Guru dan instruktur :program mencakup pula peningkatan jumlah dan peran guru/instruktur dari industri maupun pakar dari dunia kerja. "Meningkat secara signifikan sampai minimal mencapai 50 jam/ semester/ program keahlian, "tegas Mendikbud.
  4. Praktik kerja : praktik kerja lapangan / industri minimal satu semester.
  5. Sertifikasi kompetensi : Bagi lulusan dan bagi guru/ instruktur sertifikasi kompetensi harus sesuai dengan standar dan kebutuhan dunia kerja.
  6. Pelatihan : bagi guru/ instruktur perlu ditekankan untuk memperbarui teknologi melalui pelatihan secara rutin.
  7. Teaching factory : dilakukannya riset terapan yang mendukung teaching factory berdasarkan kasus atau kebutuhan riil industri.
  8. Serapan lulusan : adanya komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja/industri.

Merdeka Belajar Episode 9 "KIP Kuliah Merdeka"

KIP Kuliah Merdeka sebagai wujud komitmen Kemendikbud dalam memberikan akses pendidikan tinggi yang merata, berkualitas dan berkesinambungan. Pendidikan tinggi berpotensi memberikan dampak positif tercepat dalam pembangunan SDM unggul sesuai visi Presiden Jokowi.

Kemendikbud mengubah skema KIP Kuliah dengan memberikan bantuan biaya pendidikan (uang kuliah) dan biaya hidup yang jauh lebih tinggi. Perubahan ini berlaku untuk mahasiswa baru yang menerima KIP Kuliah pada tahun 2021. Anggaran yang dialokasikan untuk KIP Kuliah meningkat signifikan dari Rp 1,3 triliun pada 2020 menjadi sebesar Rp 2,5 triliun.

KIP Kuliah akan diberikan kepada 200 ribu mahasiswa baru pada perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di bawah naungan Kemendikbud. Adapun biaya pendidikan akan disesuaikan dengan prodi masing-masing.

Kemudian, berbeda dengan skema pada tahun sebelumnya, kini biaya hidup bagi penerima KIP Kuliah tahun 2021 disesuaikan dengan indeks harga daerah. Indeks ini disesuaikan dengan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2019.

Merdeka Belajar Episode 10 "Perluasan Program Beasiswa Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan"

LPDP sendiri merupakan Badan layanan Umum (BLU) dana abadi khususnya di bidang pendidikan yang dikelola oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Nadiem menerangkan, akan dilakukan penambahan variasi serta perluasan program hingga mencakup guru dan tenaga pendidikan, serta pelaku budaya di Tanah Air yang menjadi ujung tombak dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat Indonesia, terutama di kancah dunia.

"Bersama dengan program S2 dan S3 yang sudah terlaksana dengan baik, kita akan buat proses seleksinya lebih sederhana, lalu kita tambahkan lagi program-program Kampus Merdeka untuk mahasiswa, guru dan dosen di program vokasi, beasiswa untuk adik-adik di bangku SMA, serta beasiswa untuk pelaku budaya "terang Nadiem.

Sumber :

  1. http://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/merdeka-belajar-episode-1-10
  2. https://sevima.com/10-terobosan-mendikbud-dalam-merdeka-belajar-kampus-merdeka
  3. https://www.kompas.com/edu/read/2021/01/05/142105171/ini-terobosan-mendikbud-nadiem-di-merdeka-belajar-episode-1-6?page=all

Friday, December 3, 2021

Kampanye Profil Pelajar Pancasila

Kampanye Profil Pelajar Pancasila


a. Apa Itu Profil Pancasila

Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama : beriman, bertakwa kepada Tuhan Hyang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif, seperti ditunjukkan oleh gambar berikut :

Gambar 1. Ciri Pelajar Pancasila

Keenam ciri tersebut dijabarkan sebagai berikut :

1. Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Hyang Maha Esa dan Berakhlak Mulia

Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Nyang Maha Esa dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut  dalam kehidupannya sehari-hari. Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan Hyang Maha Esa dan berakhlak mulia : (a). Akhlak beragama; (b) Akhlak pribadi; (c) Akhlak kepada manusia; (d) Akhlak kepada alam; dan (e). Akhlak bernegara.


2. Berkebinekaan Global

Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikir terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen dan kunci kebinekaan global meliputi : mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

3. Bergotong Royong

Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang  dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan, elemen-elemen dari bergotong-royong adalah : kolaborasi, kepedulian dan berbagi.

4. Mandiri

Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri.

5. Bernalar Kritis

Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitas maupun kuantitasnya, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah : memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir dan mengambil keputusan.

6. Kreatif

Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinil serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Silakan Download Buku Tunas Pancasila


Video 1.
Kampanye Pelajar Pancasila Yang Berakhlak Mulia


Video 2.
Kampanye Pelajar Pancasila Yang Berkebinekaan Global







Sumber : Direktoral Dikdas